Perikanan/Pertanian/Perkebunan

Cari Blog Ini

Jumat, 17 Agustus 2012

MENJAGA EKSISTENSI IBADAH RAMADHAN


Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Al-Baqarah 183).

Ayat diatas menyerukan kepada orang-orang yang beriman agar menjalankan ibadah puasa. Dalam ayat ini juga diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa,  sehingga tak masalah orang yang tidak melakukannya jika dia tidak merasa beriman kepada Allah, karena ayat diatas menyeru kepada orang beriman saja. Pada  akhir ayat juga dijelaskan bahwa jika ingin keutamaan ibadah serta ingin  mencapai derajat taqwa maka lakukanlah puasa.
Momentum ramadhan merupakan bulan dimana kesempatan melipatgandakan perbuatan baik itu terbuka lebar. Akan tetapi ketaqwaan dalam momentum bulan puasa bersifat paradoks, dimana ketaqwaan sering diidentikan dengan sekedar rajin menjalankan ritual agama, seperti rajin tahajud, rajin shalat dhuha, rajin i’tikaf di mesjid, sering menghatamkan Al-Qur,an dan lain sejenisnya. Sayangnya transformasi nilai - nilai luhur ke dalam sikap dan perilaku kurang diperhatikan. Kita sangat bersyukur dengan datangnya bulan ramadhan, semarak tadarus bersahut-sahutan, penyisiran tempat maksiat dan tempat mabuk-mabukan marak dilakukan.  Momentum apa yang dilakukan oleh umat muslim saat ini sangat menggembirakan, sebab rajin menjalankan ibadah baik wajib maupun sunah adalah penting dan mutlak.  Namun menurut hemat saya akan lebih baik lagi, bagaimana umat Islam dapat menangkap makna di balik semua ibadah tersebut serta mampu ber-mujahadah mengaktualisasikan dalam kehidupan sosial.
Umat Islam diantaranya sering kehilangan identitas puasanya, dimana lapar dan haus ditahan, hawa nafsu jalan terus, hal itu adalah salah satu bentuk ketidakmampuan dalam mentransformasikan makna puasa kedalam sikap dan perilaku yang diharapkan oleh tujuan puasa itu sendiri.  Ketidak mampuan itu tercermin dari bagaimana ketika kita bertindak serta berperilaku di luar batas kewajaran yang sepantasnya dilakukan, tengok saja bagaimana kita berakhlak makan dan minum setelah menjalankan puasa seharian penuh. Beberapa waktu yang lalu saya membaca di media massa bahwa permintaan bahan pokok dan lauk pauk selama bulan puasa meningkat tajam, import gula melambung. Padahal sepatutnya ketika ramadhan tiba kita harus siap menahan dari serangan nafsu yang menggempur dari segala sudut. Kalau melihat data yang diungkapkan media tentang meningkatnya kebutuhan bahan pokok tersebut, jelas kita telah kehilangan makna dalam menjalankan puasa, sebab tujuan puasa adalah mendidik agar seluruh jasmani dan rohani  terdidik, tapi ujungnya ternyata terjebak kedalam sifat boros yang merupakan perbuatan yang dilakukan oleh syaitan. Keteraturan dalam berakhlak sosialpun demikian, sebagai contoh bagaimana kita mengantre di loket, bagaimana kita berakhlak di jalan raya, tentunya makna puasa yang sesungguhnya belum dijalankan. Kalau melihat tujuan puasa sesungguhnya kita belum mampu mentranspormasikan hikmah puasa ke dalam kehidupan sosial yang sebenarnya. Selayaknya perbuatan yang ketika ramadhan dilakukan harus tetap terjaga walaupun selesai ibadah puasa untuk mencapai derajat taqwa. 
Dalam catatan sejarah Umar bin Khatab, ada seorang sahabat namanya Ubay bin Ka’ab, mengungkapkan bahwa hakikat taqwa  adalah berusaha menghilangkan kejahatan di ranah publik secara intens, sistematis dan berkelanjutan. Hal tersebut cukup menjelaskan bagaimana seorang muslim seharusnya bertindak dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Kejahatan dimaksud bukan hanya kejahatan kriminal seperti apa yang kita bayangkan. Akan tetapi kejahatan yang kita lakukan bisa berbentuk kejahatan terhadap diri sendiri, keluarga, tetangga, masyarakat dan lingkungannya. Kejahatan terhadap diri sendiri tentunya perbuatan-perbuatan yang tercela yang merugikan diri kita sendiri seperti mencela, memfitnah, mengadudomba, kikir, sombong, tidak berkata jujur dan lain-lain. Begitupun kejahatan terhadap keluarga serta tetangga diantaranya perbuatan-perbuatan yang dapat mengganggu baik fisik maupun non fisik (mental, spiritual), yang dilakukan terhadap sanak keluarga dan tetangga. Dalam sebuah hadist dikatakan “ Sesungguhnya antara seorang muslim dan muslim yang lainnya adalah ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh sakit maka tubuh yang lainnyapun akan merasakannya”, maka cukup jelas bagaimana kita bersikap dan bertindak terhadap sesama muslim, terlebih keluarga dan tetangga. Kejahatan yang harus dihindarkan juga adalah kejahatan terhadap masyarakat karena kejahatan ini menyangkut kejahatan terhadap masyarakat luas dan kemaslahatan umat, kita cukup prihatin dengan kejadian yang diberitakan oleh media cetak dan elektronik menyangkut kasus korupsi ataupun dugaan korupsi yang merugikan orang banyak justru semakin bermunculan di bulan puasa, walaupun bisa jadi oknum yang melakukan perbuatan  itu sedang menjalankan ibadah puasa. Memang hal tersebut bukan menjadi satu-satunya indikator keberhasilan ibadah puasa, akan tetapi sudah dapat dijadikan salah satu indikator berhasil atau tidaknya kita mentransformasikan makna puasa  ke dalam kehidupan sosial yang sesungguhnya.
Seperti telah kita ketahui begitu mulianya bulan Ramadhon, sampai-sampai  Alloh menjanjikan kepada ahli sya’um akan diganjar masuk sorga melalui pintu yang khusus yaitu pinti Ro’yan. Ibadah dilipatgandakan baik sunah maupun wajib. Selain dilipat gandakan seluruh amalan, Alloh memberikan keistimewaan salah satu malam di bulan ramadhan yaitu malam lailatul qadar,  dimana amal ibadah kita dilipat gandakan menjadi 80 tahun nilai ibadah. Sungguh suatu kesempatan serta keberuntungan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Kita harus terus berharap dan terus berusaha untuk mendapatannya guna mencapai derajat muttaqin. Mengutip syair Abunawas “Aku tidak layak masuk sorga tapi tak sudi masuk neraka”, begitupun halnya dengan Lailatul Qadar, “ Kita tidak pantas mendapatkannya namun tak mau menjadi orang merugi”. Lailatul Qadar adalah hal yang penting kita raih namun yang tak kalah pentingnya adalah kita masih dapat memelihara eksistensi ibadah bulan ramadhan ke ranah kehidupan sosial selepas bulan ramadhan. Sehingga mampu mentransformasikan bulan ramadhan serta mampu terus merubah, dan pandai memelihara sikap dan perilaku  yang baik guna mencapai derajat muttaqien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar